Nasibmu Wahai Nyamuk

0
896

Kemarau panjang yang belum kunjung menampakkan akhirnya ini, sering kali menguji kesabaran kita penduduk kawasan tropis. Bagaimana tidak? Terik matahari yang menyengat kulit di siang hari dan gerombolan penghisap darah yang entah kenapa bertingkah lebih ganas di kala kemarau ini, sering menggoyahkan imajinasi perihal hidup yang akan baik-baik saja. Bukan, ini bukan soal vampir dari Eropa sana, ini soal serangga bernama nyamuk.

Nyamuk dan kemarau sudah seperti dua hal yang menambah beban hidup kita, yang tampaknya tidak kunjung ringan ini. Bayangkan saja, saat pulang dari rutinitas yang melelahkan, kita masih harus menghadapi cuaca panas di rumah yang tak lebih mewah dari bus malamĀ  dengan AC super dinginnya . Lalu yang jauh lebih menyebalkan adalah saat telinga kita mulai terganggu dengan dengungan menyebalkan dari nyamuk-nyamuk haus darah. Oh betapa indahnya penderitaan ini.

Tapi jangan dulu bersedih, penderitaan atas gangguan nyamuk ini ada jalan keluarnya, salah satunya dengan melakukan pengasapan di lingkungan tempat kita tinggal. Sebelumnya, Pak RT akan mengabarkan penduduknya yang budiman untuk bersiap terlebih dahulu agar tak terjebak di dalam rumah saat pengasapan berlangsung. Asap yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini memang lumayan mengganggu, mungkin nyamuk-nyamuk itu bisa bertahan dan tidak mati dengan serangan asap di lokasi mereka tinggal, tapi untuk menetap dan bertahan di lokasi yang sama? Sepertinya mereka lebih memilih untuk mengungsi ke wilayah baru yang lebih aman dan nyaman.

Mengetahui bahwa betapa terganggunya nyamuk dengan asap yang menyerang tempat mereka tinggal, tak terbayang jika itu terjadi pada kita. Malangnya hal ini benar-benar terjadi terhadap saudara-saudara kita di beberapa wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Apabila nyamuk memiliki pilihan untuk mengungsi dan menyelamatkan diri dari kepungan asap, berbeda dengan nasib saudara kita yang jadi korban asap karhutla, mereka tak punya banyak pilihan, mereka tetap harus tinggal dan berusaha bertahan di tengah kepungan asap yang sangat berbahaya bagi kesehatan mereka. Mereka hanya memiliki dua pilihan, berharap hujan segera turun dan menyirami lahan yang terbakar, atau menunggu peran pemerintah untuk segera bertindak cepat menanggulangi bencana tersebut.

Tapi melihat situasi beberapa hari belakangan, sepertinya dua pilihan tadi tidak terlalu berpihak pada mereka. Musim hujan yang sudah lama dinanti tak kunjung tiba. Upaya penanggulangan bencana pun terkesan lambat dan tak menjadikan persoalan yang mereka hadapi sebagai sebuah prioritas. Dari persoalan ini kita patut mempertanyakan kembali, apakah mereka yang menjadi korban asap masih tetap diakui sebagai manusia? Atau memang sudah takdir mereka memiliki nasib yang tak lebih baik dari nyamuk-nyamuk yang muncul saat kemarau tiba? (Ignavus Canis)