Manifesto Air Selly, Yang Tak Lagi Sendiri

0
834

Pagi itu Selly sedang menikmati pagi yang cerah, ia hadapkan wajahnya ke arah sang surya berharap paparan vitamin D menyerap ke dalam kulitnya yang sedikit berceruk bekas jerawat. Hanya sebentar, ia merasa kepanasan, teriknya pun mengeringkan tenggorokan, racikan air teh campuran mawar melati ia jadikan pilihan hilangkan dahaga. Menghela nafas dan dia merenung menatapi teriknya mentari yang mengingatkannya pada kemarau panjang. Sudah dua bulan air langit tak kunjung turun, walau sempat ada gerimis yang hanya segayung.

Kemarau berkepanjangan membuatnya membayangkan apa yang terjadi di daerah lain yang benar-benar minim sumber air, yang untuk minum saja mungkin susah, apalagi mengairi sawah atau untuk sekedar membuat racikan teh herbal miliknya.  Persoalan air ini ia rasanya sudah menjadi masalah yang jalannya terlalu rumit, bahkan lebih rumit dari metafor filsuf-filsuf televisi, mungkin benar kita butuh revolusi, pikirnya. Tapi apa? Ia pesimis.

Kesadaran masyarakat tidak dapat diobati, sumber air di pedesaan hanya dipandang sebagai komoditas, sementara sumber air bersih di kotanya mulai menipis, kantong air dari gunung-gunung yang gundul sudah tidak ingin menafkahi dahaga warga di perkotaan. Selly merasa ini adalah ulah manusia “ulah peradaban kita, peradaban sapiens!”

Selly pun memulai dengan penelitian, ia mulai dengan mempelajari perilaku manusia selama berhari-hari dengan penuh semangat. Mengikat kepalanya dengan kain katun tebal untuk menghalangi keringat yang bercururan karena pendingin ruangannya tak sanggup lagi menahan panas dari luar.

Apa yang Selly dapat simpulkan dari penelitiannya sangatlah sederhana, ia berkesimpulan bahwa manusia hanyalah makhluk yang haus perhatian dan voila! Ia teringat fenomena sosial media. Dangkal? Jelas! Tapi rasanya kita patut menghargai usaha Selly yang mencoba melempar kritik ke wajah modernitas. Selly kemudian menyusun rencana untuk menyebarkan manifesto yang ia beri judul “Manifesto Air Kita.”

Selly memulai dengan menggunakan akun sosial medianya sebagai medium sosialisasi, walau hanya memiliki 600-an pengikut, ia sangat optimis bahwa manifestonya akan berbuah gerakan sosial. Ia menyatakan bahwa manusia harus membatasi penggunaan air harian berdasarkan jumlah air yang tersedia di rumahnya masing-masing, ia pun membubuhkan tagar #HematAirAtauKauMatiKekeringan di tiap uanggahannya.

Setahun kemudian, gerakan yang dibuat Selly mulai diikuti banyak orang, sejalan dengan pengikut Selly yang mulai bertambah dan bertambah, Selly mulai mengunggah ulang foto-foto pengikutnya yang juga menggunakan tagar #HematAirAtauKauMatiKekeringan, mereka mulai berbagi cerita dengan Selly tentang pengurangan penggunaan air dengan cara mereka masing-masing, seperti menggunakan satu gelas minum yang dipakai dari pagi sampai malam, lalu baru dicuci setelah akan tidur, atau mandi dua hari sekali hanya dengan setengah ember air.

Semua ide yang diberikan pengikutnya, diunggah ulang di akun media sosialnya, sedikit demi sedikit apa yang dilakukkan Selly dan pengikutnya membuahkan hasil nyata, air tanah berangsur pulih, sumur-sumur di daerahnya mulai terisi. Gerakan sosial yang digagas Selly mulai berkembang, yang tadinya hanya sebatas media sosial dan tak diperhitungkan, kini mulai signifikan. Bahkan kini Selly mulai merintis bisnis start up berbasis aplikasi yang bekerja sama dengan penyedia air, ia pun mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah untuk mengontrol dan memberikan diskon terhadap pengguna air di kotanya.

Selly yang dulu sendiri memulai semuanya, kini dapat memimpin sebuah gerakan pembaharu. Sumber-sumber air yang tadinya dikuasai dan dimonopoli oleh segelintir pengusaha yang bekerja sama dengan pemangku kebijakan kini berhasil ia runtuhkan. Ia kini telah mengusai hampir seluruh sumber-sumber air yang ada, ia mengaturnya, membatasi dan menggantikan posisi penguasa air sebelumnya hanya lewat sebuah aplikasi di genggaman tangannya. Para pengikutnya pun kini kerap memujanya lewat seruan “Terpujilah nona Selly dengan segala kebijaksanaannya!” (Boti Bill)