Kota dan Kolektif Pemuda

0
885

Kota, mendengar kata itu pasti yang terbayang di kepala kita hanyalah, sesak, padat, kumuh, kotor, polusi, dan segudang alasan untuk menyumpahinya. Tapi apakah kota hanya memiliki satu wajah? Apa kota selamanya kejam? Rasanya perlu kita periksa kembali argumen ini.

Mari kita lihat kota dari sudut lain, kota sebagai ruang bersama. Dari sudut ini, kita akan dapati bahwa ia adalah sebuah ruang sosial yang heterogen. Heterogenitas kota melahirkan berbagai masalah dan friksi antara sesama masyarakat sebagai konsekuensi logisnya, tapi masalah itu sendiri melahirkan semacam upaya penanggulangan yang khas, yang menjadi ciri kota.

Upaya atau solusi yang hadir dari warga atas persoalan di kota, salah satunya adalah kolektivisme yang bersifat horizontal. Berbeda dengan kolektivisme vertikal yang berorientasi pada hierarki dan bentuknya yang terstruktur, kolektivisme warga perkotaan yang bersifat horizontal justru hadir dalam bentuk partisipasi yang cenderung lebih organik dan demokratis.

Salah satu yang kini mulai menggeliat ke permukaan ialah kolektif pemuda perkotaan, dimana para pemuda berupaya atau bersiasat dalam merespon persoalan yang hadir di sekitar mereka. Upaya yang lahir pun beragam, mulai dari pendekatan kultural, kajian ilmiah, bahkan pendekatan dengan seni ternyata mampu menghidupkan kembali kota sebagai ruang publik yang lebih humanis.

Kegiatan yang dilakukan kolektif pemuda dalam merespon kotanya, pernah dilakukan oleh Garduhouse, sebuah kolektif seni jalanan dan graffiti yang bermarkas di bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di daerah Kebayoran. Saat itu Garduhouse akan melakukan sebuah acara berskala internasional yang bertajuk Street Dealin. Dalam rangkaian acara digelar, terdapat salah satu acara kolaborasi antara seniman dengan warga.

Ruang kolaboratif tersebut bertempat di wilayah pemukiman padat penduduk, dimana para seniman akan merespon tembok-tembok disana dengan mural dan graffiti. Pihak Garduhouse menginisiasi proyek tersebut sebagai upaya melibatkan dan membangun intimasi dengan warga dalam proses berkesenian mereka. Garduhouse menginterpretasikan seni jalanan dan graffiti sebagai kebudayaan yang lahir dari masyarakat perkotaan, irisannya dengan problem-problem sosial melahirkan suatu bentuk kesenian yang inklusif dan menjadi representasi kehidupan masyarakatnya.

Apa yang dilakukan kolektif seperti Garduhouse adalah cuplikan dari bagaimana sebuah kolektif pemuda merespon dan memaknai kota tempat mereka tinggal. Upaya tersebut menjadi indikasi bahwa masyarakat perkotaan memiliki upaya dan mekanismenya sendiri dalam mengatasi atau merespon persoalan sosial dan lingkungannya. Dengan upaya-upaya tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa kota bukan hanya ruang kelindan kepentingan kapital saja, ia tetap berupaya menjadi ruang yang melahirkan geliat masyarakat, ruang yang hidup dan akan tetap memanusiakan tiap penghuninya.