Hari Tanggung Jawab Pelanggan Nasional

0
880

Sore itu sepertinya saya lupa mengisi perut tepat pada waktunya dan itu lumayan membuat badan lemas tak bergairah (padahal setaip hari pun sama, hehehe). Tidak lama berselang teman saya mengajak membeli makanan lewat jasa pesan antar. Saat itu dia sudah mulai sibuk dengan telepon genggamnya, mencari-cari menu apa yang sekiranya pas di selera, dan di kantong.

Tidak lama berselang, teman saya ini dengan sumringah berkata pada saya dalam bahasa Sunda “Mang, iyeu aya promo loba euy! Ayeuna hari pelanggan nasional ceunah, arek moal?” (Kalau diterjemahkan, kurang lebih seperti ini artinya: Bung, ini ada banyak promo! Sekarang katanya sedang hari pelanggan nasional!) Jiwa missqueen berkantung tipis saya pun bergolak, dengan bersemangat saya langsung menyambut gayung tersebut. Tapi tidak lama berselang ia berujar “Wah kalau yang begini-begini biasanya selain diskon dan promo, bonusnya biasanya sampah lho.” Mendengar hal tersebut, saya sontak kehilangan semangat aji mumpung yang tadi bergejolak dan memutar balik haluan pemesanan menjadi makanan sejuta umat kost di nusantara, iya betul, nasi goreng.

Sepulang dari kantor, saya pun melanjutkan mencari info terkait hari pelanggan nasional yang hampir membuat saya berkesempatan makan enak dan murah. Saya lumayan penasaran dengan hari pelanggan nasional, sebab jujur, seperti juga kalian, saya baru mengetahui ada hari macam ini. Di laman akun resminya, hari tersebut dijelaskan sebagai hari yang diadakan untuk memompa semangat perusahaan agar memuaskan pelanggan. Jadi di hari tersebut banyak pengusaha mengadakan diskon, seperti di gerai-gerai makanan, minuman, bahkan perusahaan telekomunikasi. Sebagai sorang pelanggan yang oportunis, tentu saya merasa diuntungkan dengan adanya hari-hari macam ini. Tapi entah kenapa perkataan teman saya soal sampah yang dihasilkan dari “perayaan” macam ini, kerap membuat saya terganggu, walau tak pernah tergugah, heuuu.

Selepas mencari tahu soal hari pelanggan tersebut, saya terpikir untuk membuat tandingannya, mungkin akan saya beri judul “Hari tanggung jawab pelanggan internasional,”

Yap, internasional, toh imajinasi tak perlu dibatasi ilusi teritori kan? Pada hari itu semua pelanggan akan ada dicatat jumlah belanjanya dalam satu hari, lalu akan dihitung jumlah sampah yang dihasilkannya selama satu hari berbelanja. Setelah pendataan belanja dan sampah selesai, semua pelanggan akan diminta untuk bertanggung jawab atas sampah dari belanjaannya dan juga diwajibkan untuk menagihkan pertanggung jawaban produsen dari produk yang menghasilkan sampah tersebut.

Saya kira hari tersebut akan menjadi hari yang sangat menyebalkan bagi banyak orang, tapi bukankah kita sudah sangat sadar bahwa perilaku kita sangat menyebalkan? Coba tanyakan pada planet tempat kita berpijak ini, pernahkan kita umat manusia sehari saja tidak menodainya? Hampir bisa dipastikan tidak. Lalu bagai sebuah lelucon dungu yang dilontarkan saat berduka, saya harus percaya bahwa sebagai pelanggan saya harus dipuaskan? Saya kira tidak, pelanggan macam saya yang tengah mabuk hasrat konsumsi harusnya diingatkan, bukan dipuaskan.