Antara TEMPO dan Pink Floyd

0
7077

SETELAH sebelumnya terbit dengan sampul kontroversial bergambar Presiden Joko Widodo dengan bayangan hidung panjang, kali ini Tempo edisi 23-29 September terbit dengan laporan utama seputar kebakaran hutan dan lahan di Riau. Sampulnya, ilustrasi Jokowi dan orangutan sedang bersalaman sementara api menyala di punggung keduanya.

Kiri; Gambar sampul majalah TEMPO, karya Kendra Paramita. Kanan; Gambar sampul album Pink Floyd, karya Storm Thorgerson.

Penggemar musik rock lawas era 1970-1980-an tentu tahu bahwa ilustrator Tempo, Kendra Paramita mengambil ide dari sampul album rock “Wish You Were Here” band rock Pink Floyd (gambar kanan). Projek desain cover itu dilakukan oleh Hipgnosis bentukan Storm Thorgerson, yang mejadi rekan  kreatif Pink Floyd. Cover ini sebetulnya merupakan kritik Pink Floyd kepada para pengusaha rekaman yang tidak adil dalam berbisnis dengan para musisi. Thorgerson terinspirasi oleh para seniman “silent majority” yang takut bicara tentang royalti yang murah. Mereka takut “dibakar” (getting burned) oleh para industriawan musik. Kalau “dibakar”, para seniman itu kehilangan kesempatan pekerjaan. Jadi mending diam dengan royalti murah.

Pink Floyd dan Thorgerson ingin mengubah nasib musisi, maka dibuatlah cover ini. Dalam cover album Wish You Were Here, dua stuntmen Ronnie Rondels (pria yang terbakar) dan Danny Rogers memerankan dua tokoh itu. Lokasi pemotretan adalah Warner Bros Studio Los Angeles. Tadinya Rondels berada di sebelah kanan. Namun karena angin berubah arah, Rondels pindah ke sebelah kiri. Dan fotografer Aubrey “Po” Powel mengabadikannya dalam hitungan detik. Kemudian, foto itu di-reverse, sehingga Rondels kembali tampak seperti berada di sebelah kanan  seperti di atas. Dalam proses itu, kumis dan alis Rondels terbakar, tapi dia selamat.

Pink Floyd memang fenomenal. Adalah Syd Barret yang mendirikan grup beraliran psychedellic rock ini pada 1965. Personel lainnya Roger Waters (vokal, bass), David Gilmour (gitar), Richard Wright (keyboard), Bob Klose, dan Nick Mason (drum).  Barret dan Klose mundur, sehingga Pink Floyd beranggotakan empat orang saja sampai grup ini bubar pada 2014. Terbedakan dari karakter eksperimen suara (sonic experiment), live show yang detail dan rumit (elaborate) Pink Floyd dikenal dengan lirik-lirik filosofis dan kritis. Mereka misalnya menulis lagu “Us and Them” yang menolak perang Vietnam.

Tahun 1980, rezim Apartheid Afrika Selatan melarang album Another Brick on the Wall (2). Lagu itu mengkritik keras sistem pendidikan inferior kulit hitam.

We don’t need no education
We don’t need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers leave them kids alone
Hey, teachers, leave them kids alone
All in all it’s just another brick in the wall
All in all you’re just another brick in the wall

Tapi Roger Waters si penulis lirik, juga menggunakan lagu the Wall ini sebagai alat protes dia terhadap Israel. Tentu saja, karena negeri zionis itu memasang dinding, atau setidaknya pagar-pagar yang memisahkan anak-anak Palestina di tanahnya sendiri. Malah Waters sendiri adalah penyeru paling depan gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions terhadap Israel .

Tentang Wish You Were Here, lirik ini ditulis bareng Roger Waters dengan David Gilmour. Syair ini dibuat untuk Syd Baret yang kecanduan obat-obat terlarang. Syd Barret keluar dari Pink Floyd karena alasan harus menjalani perawatan mental. Namun, ada yang mengatakan juga bahwa Baret ditendang keluar oleh keempat personel Pink Floyd lainnya.

So, so you think you can tell
Heaven from hell
Blue skies from pain
Can you tell a green field
From a cold steel rail?
A smile from a veil?
Do you think you can tell?
Did they get you to trade
Your heroes for ghosts?
Hot ashes for trees?
Hot air for a cool breeze?
Cold comfort for change?
Did you exchange
A walk on part in the war
For a lead role in a cage?
How I wish, how I wish you were here
We’re just two lost souls
Swimming in a fish bowl
Year after year
Running over the same old ground
And how we found
The same old fears
Wish you were here

(Ingin rasanya menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, tapi saya tidak berani, takut maknanya hilang).

Tempo via Kendra Paramita mungkin ingin menanyakan hal-hal yang sama yang tertulis dalam syair itu kepada Jokowi.  Sang orangutan bertanya kepada Jokowi:

Pak, apakah bapak bisa merasakan bedanya surga dari neraka?
Atau bedanya langit biru dari rasa sakit?
Mengapa pahlawan-pahlawan itu kini berubah jadi hantu?
Mengapa abu panas sudah menggantikan pohon, udara sejuk menjadi panas?
Pak… Mengapa kita ini seperti dua ikan mungil yang tersesat di dalam mangkok  kecil?
Tahun demi tahun kita berlari di tanah yang sama dengan ketakutan yang sama?
Kami ingin (kepemimpinan) bapak hadir di sini.

Jadi album cover Wish You Were Here adalah kritik kepada kaum kapitalis industri rekaman,  sedangkan liriknya adalah untuk Syd Barret. Saya yakin, Kendra tidak bermaksud mengasosiasikan Pak Jokowi dengan Syd. Tapi kondisi yang ingin disampaikan ada dalam lirik Wish You Were Here. Jokowi harus  menghentikan para pengusaha pembakar hutan yang berhasil membungkam para pejabat, karena takut “getting burned.

Pak Jokowi, wish you were here.  Hadirlah dengan lebih pasti lagi, supaya kita tidak berlari di tanah yang sama dengan ketakutan lama… Selesaikanlah bencana ini dengan kekuasaan Anda. (Budhiana Kartawijaya)