Mati Lampu dan Keluhanmu Yang Lucu

0
965

Saya segera pulang untuk numpang istirahat dari sebuah kegiatan di akhir pekan lalu, ini karena tiba-tiba saja kepala saya sakit dan bikin saya hampir semaput. Sesampainya di studio kawan, tempat saya numpang, saya baru ingat kalau listrik sedang padam sedari siang, bahkan sebelum saya berangkat tadi. ‘Asem’ kata itu yang pertama terucap secara otomatis dari mulut saya. Saya akhirnya pasrah saja lalu mencoba tidur dengan kondisi yang memang sedikit ‘hangat-hangat gimana gitu’. Benar saja, baru satu jam tidur saya pun terbangun karena udara terasa sumuk, saya mengambil telepon genggam untuk mencari tahu kira-kira ada kabar apa mengenai pemadaman ini. Setelah membuka beberapa aplikasi, hampir di setiap linimasa-nya berisi umpatan, ini mungkin karena kondisi orang-orang juga tak lebih baik dari saya, yang kegerahan sembari menahan kepala yang masih nyut-nyutan.

Pemadaman ini jelas berimbas pada banyak pihak dan dari pelbagai lapisan pula pastinya. Dari CEO perusahaan multinasional, yang sedang menikmati liburannya di penthouse mewah di jantung kota, sampai mas-mas penjaga kios yang harus merelakan sesi Smule-nya harus terputus karena jaringan seluler pun ikut terganggu.

Membayangkan kondisi ini saya jadi ngikik sendiri. Lha gimana saya gak ngikik, membayangkan dua kelas masyarakat yang sekedar beradu pandang saja belum tentu pernah, pada saat yang bersamaan bisa punya nasib yang serupa, walau hanya dengan durasi beberapa jam saja. Tapi saat saya mesam-mesem membaca pantauan linimasa, saya tiba-tiba saya berhenti di satu tulisan, dalam cuitan seseorang yang saya tidak kenal, tapi kelihatannya sih belio ini selebtwit, kalau melihat dari jumlah likes di cuitannya.

Dalam tulisannya ia menyampaikan semacam pesan bernada sarkastik yang ditujukan pada mereka yang beberapa bulan lalu heboh menanggapi sebuah film bertajuk “Sexy Killers”. Buat yang belum nonton, film tersebut mengupas industri batubara yang menjadi ironi bagi bangsa ini, di satu sisi ia dibutuhkan untuk membangkitkan listrik misalnya, tapi di sisi lain ia mengandung ancaman karena menyisakan lubang tambang, polusi, dan sederet masalah lainnya.

Tapi membaca cuitan tadi saya malah jadi bertanya-tanya, sebenarnya sikap apa yang musti kita munculkan dalam merespon situasi ini? Marah karena listrik yang padam, atau bergembira karena setidaknya untuk beberapa jam penggunaan listrik berhenti? (Bahkan kampanye earth hour saja hanya menganjurkan mematikan listrik selama satu jam lho). Karena bingung, akhirnya saya memilih tertawa saja. Anggap saja ini tragicomedy, pertunjukkan yang patut dinikmati dengan secangkir teh dan setoples camilan. Saya tertawa, membayangkan mereka yang sedang mengumpati PLN, dengan wajah memerah, di depan lilin murahan yang terpakasa dibeli di warung depan. Saya juga tertawa, membayangkan mereka yang sedang menikmati kesumatnya terbalas pada pihak yang kemarin berisik soal energi kotor batubara.Tapi yang paling membuat saya terbahak adalah, ternyata kita tak pernah benar-benar peduli dengan krisis yang mengancam setiap saat, tentang pola hidup kita yang memiliki potensi merusak, atau hal penting yang tidak pernah kita bayangkan jadi prioritas, toh pada akhirnya yang penting bagi kita semua hanyalah urusan nge-cas dan ruangan ber-AC saja, selebihnya, biar waktu yang menjawab, kikikikikik.