Mari Mulai Belajar Bernapas Tanpa Oksigen

1
849

Belakangan dunia digemparkan dengan kejadian kebakaran hutan yang begitu besar, yang terjadi di wilayah Amazon, Brasil. Mata semua orang tertuju pada kejadian tersebut, selain itu, sorotan berbagai media juga berhasil mengamplifikasi gaung kabarnya ke seluruh penjuru bumi.

Ini seperti menjadi sirene yang untuk kesekian kalinya berdering keras, yang mengingatkan kita perihal krisis ekologis yang tak kunjung tuntas atau setidaknya teratasi secara bertahap.

Kita seperti diingatkan soal kondisi bumi yang tidak baik-baik saja dan tak pernah membaik sejak sirene pertama dibunyikan.

Melihat kasus kebakaran hutan di Amazon, seharusnya menjadi semacam momentum pengingat bagi kita terkait kondisi hutan di Indonesia, yang kondisinya tidak bisa dibilang lebih baik. Kasus karhutla sudah menjadi momok bagi bangsa ini, persoalan yang selalu pelik bahkan hanya untuk sekedar dianalisa, sebab di dalamnya terdapat berbagai kepentingan yang kadang tak pernah berpihak pada alam.

Lalu apa kita umat manusia tak paham konsekuensi dari persoalan ini? Oh, jelas tidak, kita mungkin bisa dibilang sudah mafhum soal konsekuensinya. Upaya yang dilakukan pun sudah banyak walau nampak belum maksimal. Kerusakan hutan seperti menjadi kepastian yang tak bisa dihindari lagi.

Maka mengingat persoalan ini semakin mendesak dan menghantui kehidupan, rasanya kita harus bergerak dengan lebih konkrit, yang lebih radikal. Perubahan yang tahapannya singkat namun dengan hasil yang signifikan. Sebab apabila kita masih enggan melakukan peralihan yang berpihak pada alam, mungkin kita harus siap beradaptasi dengan satu kondisi yang akan kita hadapi, kondisi dimana hutan dan tanaman yang memproduksi oksigen tak lagi tumbuh, maka bila itu terjadi, upaya satu-satunya adalah, kita harus mulai belajar untuk berhenti ketergantungan pada oksigen dan mulai beralih dengan bernapas menggunakan unsur lain, karbondioksida misalnya.

 

1 KOMENTAR

Comments are closed.