Adikku Sang Pencerah Yang Menyebalkan

2
1263

Muka adikku itu, entah kenapa, selalu bikin esmosi dan gregetan. Udah dekil, rambut kriwil, songong pula. Hobinya nyanyi kenceng-kenceng di kamar mandi, bikin aku yang menikmati mimpi nongkrong bareng Rich Brian, harus terbangun tiap kali dia mulai konser pagi butanya itu. Apalagi saat dia keluar kamar mandi tanpa perasaan bersalah, lalu dengan tampang tengil dan dekilnya cengengesan, hmmm pingin tak remek rasanya. Itu semua aku rasa bisa jadi alasan yang tepat buat menjuluki adikku ‘monyet’.

Mamaku paling gak suka kalau aku panggil adikku monyet. Katanya, “Kalau adikmu monyet, berarti Mama juga monyet, dong?” Lalu, setelah Mama ikutan ngomel, kami langsung dihukum. Waktu kecil dulu, aku menganggap Mama cuma gak mau dibilang monyet juga. Jadi aku tetap pada pendirian untuk ngatain adikku monyet tiap kali Mama gak ada.

Tapi sekarang, saat pengetahuanku tipis-tipis sudah lebih mumpuni, aku paham kalau yang Mama maksud itu bukan cuma masalah aku ngatain saudara sendiri, tapi lebih jauh lagi, ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana aku memandang manusia lain. Kalau sama adikku saja aku tega panggil dia monyet, apa jadinya saat aku harus berbaur di lingkaran yang lebih luas dan beragam? Wah bisa runyam urusannya.

Ngomong-ngomong soal hobiku memanggil adikku monyet, beberapa waktu lalu, aku serasa ditampar, ketika tahu kasus yang belakangan terjadi, soal mahasiswa Papua yang juga dipanggil monyet. Aku terganggu sekaligus malu saat tahu kasus tersebut. Ketika tahu ada sesama manusia yang berasumsi kalau dirinya berhak merendahkan manusia lainnya, hanya dengan menilai penampilan fisiknya dan atas kesalahpahaman yang masih jauh dari kata jelas.

Ini jadi renungan buatku, bahwa bagamiana aku sebagai subjek memandang yang liyan, ternyata sangat berpengaruh pada bagaimana aku bersikap. Banyak hal yang aku anggap sepele, ternyata memiliki potensi konflik yang gak pernah aku kira sebelumnya.

Jujur aku masih sedih dengan kejadian yang menimpa teman-teman mahasiswa Papua, aku juga bersedih karena faktanya sikap yang cenderung rasisme masih ada di tengah masyarakat Indonesia. Mungkin hari ini aku akan berhenti memanggil adikku monyet, tapi apakah caraku memandang subjek yang liyan ini akan ikut terhapus bersamanya, aku masih ragu. Tapi semoga keraguan ini jadi pengingat buatku, seperti Mama yang mengingatkanku dengan omelannya.

2 KOMENTAR

  1. Aya, tulisannya bagus, untuk renungan kita bagaimana memandang sesama saudara sebangsa dan setanah air. Semoga tulisa Aya bisa menambah kekuatan apa arti persaudaraan diantara kita bangsa Indonesia. Salam utk mama Melda, ikut bangga punya anak hebat seperti Aya. Teruskan hobby menulis dengan ide2 yang lebih bagus dari fenomena sosial di sekeliling hidup kita.

  2. Wah, bagus juga cara Aya mlipir untuk melepaskan ketidak setujuan dng umpatan monyet yg bbrp hari yg lalu menjadi issue panas di surabaya dan papua. Mlipir melalui cerita masa kecil Aya yg tidak tahan utk tidak menempelkan call sign monyet utk si adek. Saat perilaku si adek membuat Aya sebal. Coba kalau call sign untuk si adek itu misalnya arjuna. Akan bedakah kisah di rumah mau pun di Surabaya bila diksi umpat dan maki yg keluar itu kata2 pujian?. Si ibu pun tentu tidak jadi mengomel.

Comments are closed.