Ragu Yang Mengganggu

0
303

Kamu pernah kepikiran untuk menjalankan gaya hidup “Go Green?” Atau kamu sedang menjalaninya sekarang? Atau mungkin kamu sudah menyerah karena pertentangan batin dan pikiran membuatmu ada di sudut jurang pesimisme. Nah kalau kamu ada di posisi yang terakhir, tenanglah, kamu tidak sendirian, setidaknya ada saya dan beberapa orang biasa yang pernah memimpikan cita-cita mulia tersebut.

Kita orang-orang yang mundur perlahan dari gerakan kultural ini, jelas bukan mundur tanpa sebab, tapi kebanyakan dari kita merasa kelelahan dengan pilihan, syarat, atau mungkin pertentangan dalam pikiran kita sendiri. Pertanyaan macam “Apa bener gue berkontribusi buat perbaikan kondisi lingkungan?”-lah yang membuat kepala berasap rasanya. Belum lagi pilihan-pilihan yang sederhana tapi rumit, seperti memilah jenis sampah saat akan dibuang “Hadeuh ribet uga eaaaa”.

Lalu perlahan tapi pasti, kita mulai menanggalkan kebiasaan pro-lingkungan kita ini bersamaan dengan pesimisme dan argumen-argumen “lebih realistis” ala masyarakat urban.

Saya pribadi pernah ada pada titik tidak menemukan pembenaran untuk jadi “lebih realistis” itu tadi, tapi juga sekuat tenaga meragukan gaya hidup Go Green itu sendiri. Pertentangan ini berjalan cukup lama dan lumayan alot, hingga saya memutuskan untuk mencari wangsit ke pegunungan di Timur Jawa sana. Awalnya upaya saya ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan, apa lagi menjawab. Hingga pada hari terakhir, saat saya dalam perjalanan turun gunung, saya berpapasan dengan seorang petani tua yang dengan tiba-tiba menanyakan ada apa dengan wajah saya yang muram? Entah ada angin apa saya lalu menjelaskan maksud pendakian saya kepada petani tadi secara detil, dan seusainya saya terdiam untuk akhirnya mendapat jawaban yang tidak terduga. Beliau hanya berkata “Mas, kalau kita sudah mendapat banyak dari bumi ini jangan pernah berpikir untuk membalasnya, sebab itu kasih sayang, kalau merasa berhutang bayarlah dengan mengembalikan kasih sayang tersebut.”

Saya akhirnya bisa pulang dengan jawaban yang melegakan, jawaban yang akhirnya membuat saya meyakini bahwa saya selama ini hanya menjalani gaya hidup dan bukan memberi kasih sayang pada lingkungan yang sepatutnya saya curahkan tanpa harus bertanya, apa lagi ragu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here