Memulai Diet Kantong Plastik Dengan Mempertanyakan Keseharian Kita (Part 1)

0
994

Sebelumnya perlu diketahui kalau tulisan ini hanya sekedar anabel (analisa gembel) atau utak-atik gathuk dan anggap saja ini disclaimer, heu.

Jadi mari kita mulai membahas pokok utamanya ‘diet kantong plastik’ kalimat yang kerap mewarnai headline berita hampir beberapa tahun belakangan. Diet ini sendiri bukan dimaksudkan untuk mereka yang hobi melahap kantong plastik, kalau yang seperti itu lebih baik diperiksakan ke rumah sakit, barangkali kondisi organ pencernaannya sudah bermutasi jadi semacam mesin daur ulang plastik. Diet ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik oleh manusia, dengan harapan dapat mengurangi limbah plastik yang jumlahnya sudah pada kondisi wow banget, kalau bukan wow saja.

Aspek utama yang disasar oleh kampanye ini ialah, mengubah pola konsumen yang terbiasa menggunakan kantong berbahan plastik yang bersifat sekali pakai, lalu mau beralih ke kantong berbahan lebih ramah lingkungan dan dapat dipakai berulang kali. Dengan peralihan ini diharapkan jumlah penggunaan kantong plastik, terutama yang sekali pakai mampu berkurang secara drastis.

Tapi kalau diperhatikan, bukankah justru pola konsumerisme lah akar dari persoalan plastik ini? Walau bukan satu-satunya. Bayangkan saja, apabila mayoritas manusia di dunia mampu memenuhi kebutuhan domestiknya secara otonom, bukankah ia tidak akan banyak berbelanja dan menumpuk kantong plastik di rumahnya? Terdengar utopis? Mungkin, tapi tak ada salahnya kan punya pikiran macam itu.

Memang mengubah sesuatu secara radikal tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan gebetan, yang jangankan membalik, memegang saja hanya sebatas lamunan, kikikikik. Walau sulit untuk mengubah hal-hal yang sifatnya mendasar dan mengakar, setidaknya kita mulai dulu dari pertanyaan dan kritik terhadapnya. Sederhanya ya dengan otokritik, mempertanyakan ulang pola konsumerisme kita yang ternyata memiliki dampak yang merusak, bahkan mengancam kehidupan.