Membaca Ulang Gerakan Menyerbu Laut Kidul Dengan Baju Hijau

0
1252

Beberapa waktu lalu, lini masa sosial media sempat diramaikan dengan viralnya sebuah ajakan untuk mendatangi pantai Parangtritis beramai-ramai dengan menggunakan baju hijau. Tentu ini bukan ajakan kampanye parpol apalagi pawai sunatan.

Buat kalian yang selama hidup tidak pernah bersinggungan dengan mitologi dan kearifan lokal, perlu diketahui bahwa baju berwarna hijau adalah kostum pantangan yang tak boleh di gunakan bila hendak mengunjung pantai di selatan Jawa, sebab dipercaya dapat mengundang malapetaka bagi si pengguna baju tersebut. Pantangan ini diwariskan secara turun temurun walau belum jelas siapa yang pertama kali mengucapkannya, atau mungkin benar bahwa kanjeng ratu laut kidul yang menyampaikannya, entahlah, biar para ahli sejarah saja yang menjelaskan.

Mari kembali lagi ke ajakan di sosial media, ajakan tersebut sebenarnya bermula dari si pencetus yang ingin mengunjungi Area 51 di Nevada, Amerika Serikat, yang sangat terkenal dan selalu muncul di setiap teori konspirasi dunia. Tapi berhubung ongkosnya terlalu tinggi dan rasanya sulit mendapatkan sponsor yang ingin mendanai kunjungannya tersebut, ia mengubah titik kunjungan ke daerah yang dianggap punya nilai konspiratif setara, namun dapat dijangkau bahkan hanya dengan motor kreditan sekalipun. Yak, Parangtritis-lah yang terpilih, karena konon mereka yang melanggar pantangan di sana akan menghilang tanpa jejak, ya 11-12 lah dengan Area 51.

Saya penasaran ajakan tersebut itu guyon atau serius ya? Nah kalau serius, kira-kira berhasil gak ya niatnya membuktikan pantangan tersebut? Tapi terlepas dari berhasil atau tidak rencana tersebut, sepertinya ada yang luput diperhitungkan oleh si empunya acara, ia lupa membedakan bahwa apa yang berlaku di Parangtritis bukan sekedar pantangan yang plek ketiplek begitu aturan mainnya. Kalau ia mau menggali khazanah kebudayaan bangsa ini, ia mungkin paham kenapa pantangan tersebut ada dan mungkin akan mengurungkan niatnya, karena kemungkinannya hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Jadi yang perlu diperhatikan dari pantangan berbaju hijau di Parangtritis, adalah kebudayaan yang menghasilkannya. Yak hampir sebagian besar kebudayaan bangsa-bangsa di Nusantara ini menggunakan mitos bernuansa mistis. Banyak bentuk pantangan dan larangan dengan mitos tertentu yang sengaja diciptakan untuk melindungi kesakralan atau kelestarian suatu lokasi. Seperti konsep hutan adat atau hutan larangan dengan ‘penunggunya’ yang efektif mencegah orang merambah hutan pada masanya.

Walau akhirnya upaya pelestarian tersebut semakin tergerus arus modernitas dan pergeseran nilai-nilai yang menyertainya, tapi mungkin kita patut malu, kalau mengingat bagaimana peradaban manusia ratusan tahun yang lalu sudah mampu menciptakan metode cagar alam hanya dengan mitologi.

Lalu apakah pantangan berbaju hijau di Parangtritis adalah bentuk mitos untuk melestarikan nilai-nilai tertentu? Mungkin saja, lagipula tanpa mitos sekalipun dan hanya bermodal analisa suka-suka saja, kita harusnya sudah paham resiko yang terjadi kalau kita ceroboh saat berada di sana. Pertama, perlu diingat pantai selatan terutama Parangtritis memiliki ombak yang cenderung tinggi dan ganas karena letaknya yang langsung berhadapan dengan samudera Hindia. Kedua, menggunakan pakaian yang berwarna serupa dengan warna air laut seperti hijau, jelas mempersulit proses evakuasi, apabila kita terseret arus ke tengah laut. Dua alasan tadi saja sudah cukup meyakinkan kalau ada bahaya yang mengintai setiap saat di lokasi tersebut.

Jadi untuk mereka yang berencana menyerbu Parangtritis dengan baju hijau, semoga niatnya terkabul, agar rasa penasarannya terjawab. Dengan menghilangnya mereka, mungkin saja bangsa ini akan dianugerahi berkah, atau setidaknya, populasi manusia malas mikir dapat susut. Kikikikikikik.